Hari itu kita berdua berjanji untuk menjenguk nania teman 1 kampus kita yang sedang di rawat di rumah sakit lantaran terkena penyakit malaria. dan hari itu aku memang ke rumah sakit, bukan bersama denganmu tapi dengan kedua orang tua dan kedua adikmu risma dan dimas, yang sedari tadi tak henti menangis. Terlebih lagi aku ke rumah sakit bukan untuk menjenguk nania yang sakit, tapi untuk menjemput jenazahmu yang kata petugas kepolisian tak lagi utuh.
Tubuhku melemas saat masuk kedalam ruang jenazah ketika ayahmu memintaku untuk ikut mesuk mendampinginya, karena mamamu tak kuat untuk mesuk dan melihat kondisi jasatmu.
kaukah jenazah yang terbujur kaku tanpa kaki kanan di hadapanku? aku hampir pingsan tapi aku berusaha tegar, aku harus kuat untuk orang tua dan kedua adikmu.
Kutahan airmata yang sejak tadi hampir tumpah di pelupuk mataku, karena aku tau kau adalah orang yang paling benci melihat airmata di wajahku. tapi kali ini aku sudah tak bisa menahannya lagi, dadaku terlalu sesak untuk menahan semua air mata ini. Maafkan aku,maafkan aku jika kali ini aku menangis, maafkan aku jika kali ini aku tak bisa menepati janjiku padamu, dan maafkan aku jika membuatmu marah dari atas langit.
aku dan ayahmu menaiki mobil jenazah yang mengantarmu kerumah duka.
kau tentu tahu aku salah satu orang yang paling benci masuk ke kamar mayat, dan kau tentu juga tahu aku orang yang paling benci mendengar suara sirine dari ambulance, apalagi untuk naik dan ada didalamnya bersama dengan mayat. Tapi kali ini berbeda, aku tak lagi memikirkan rasa benci atau rasa takut yang biasa kualami, semua tergantikan oleh rasa sedih dan lemas pada tubuhku, beberapa lama kemudian suara sirine ambulance tak lagi terdengar, beberapa orang terlihat membuka pintu mobil dan dan mengeluarkan keranda berisikan jenazahmu di dalamnya untuk di semayamkan di rumah duka, Rumahmu.
Samar-sama masih bisa kulihat kerandamu dimasukkan kedalam rumah dan wajah para pelayat yang sudah menunggu dari tadi termasuk papa dan mamaku yang ternyata sudah berada disana. dan setelah itu semuanya gelap. aku pingsan tak sadarkan diri
Beberapa lama kemudian aku sadarkan diri, jenazahmu baru saja di kafani dan akan segera di bawa ketempat peristirahatanmu yang terakhir, aku berusaha kuat meski beberapa ibu-ibu meragukan kondisiku yang terlalu lemah karena baru sadar dari pingsan.
Akhirnya aku sampai ditempat pemakamanmu meski jalanku masih dibopong oleh mamaku, kulihat banyak yang mengantar dan menangisi kepergianmu, ada teman kampus kita, tetanggamu, teman berorganisasimu, dan terlalu banyak yang datang dan tak ku kenal. aku tak kaget melihat banyak orang yang mengantar dan ikut mendoakanmu siang itu karena kau salah satu manusia berhati malaikat yang ku kenal.
mereka mengirimkanmu doa, semoga kau di tempatka di tempat terbaik disisi Allah swt, amin :)
Air mataku, dan air mata orang tuamu, kedua adikmu, dan air mata para pelayat yang datang mengantarmu hingga tempat peristirahatan yang terakhir,serta doaku tak henti ku panjatkan untukmu hingga liang lahatmu tertutupi tanah dan bertabur bunga yang indah serta batu nisan yang bertuliskan
AWAN ADIYARAKSA PUTRA
BIN SUTANTO
Lahir 28 Februari 1993
Wafat 23 Februari 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar