Kamis, 25 Februari 2016

Yakinlah


Masihkah kamu ingin bertanya soal rasa sayang dan cinta setelah sejauh ini?

Sebelum kamu bertanya padaku? Izinkan aku bertanya hal serupa denganmu.
Sebesar apa rasa sayang dan rasa cintamu padaku?
Sebesar duniakah?
Jagad raya?
Alam semesta?
Atau alam semesta beserta isinya?
Ah rasanya terlalu berlebihan jika sebutanku tadi gambaran betapa rasa cintamu besar padaku.

Atau hanya aku yang berfikiran seperti itu? Dan kamu tidak?
Semoga dugaanku salah, dan semoga kita berdua sama-sama sedang memperjuangkan hal baik di jalan masing-masing agar keluarga dan tentunya Tuhan percaya bahwa ada keseriusan yang sedang kita jalani di tempat yang berbeda ini.
Atau…
Ah sudahlah…
Terlepas dari bagaimana kamu dan perasaanm, aku tak ingin mempermasalahkan itu semua.
Mengenai pertanyaanmu tadi, apakah kamu masih ingin mendengarkan bagaimana penjelasanku?
Baiklah, dengarkan maka akan ku jelaskan semuanya dengan baik.

Tentang bagaimana perasaanku padamu?
Tentunya aku menyayangimu, kau adalah laki-laki baik yang ku yakini sedang di dekatkan tuhan denganku, laki-laki yang tuhan kirimkan sebagai penawar rasa patah hatiku pada cintaku yang salah, laki-laki yang kini kebagian rinduku setiap saat.
Berbicara tentang cinta.
Aku tak ingin buru-buru menyebutnya dengan sebutan cinta. Karena ku pikir, biarkan Tuhan memberikan petunjuk dan kamu sendirilah yang menafsirkan sudah sejauh mana rasa yang ku berikan padamu, sudah sedalam mana kamu jatuh dalam pelukanku, sudah sehebat apa aku dapat membuat duniamu berpaling jika kamu merindukanku. Karena ini bukan lagi perkara ada kata “I LOVE YOU” atau “Aku cinta kamu, jangan pernah tinggalkan aku” di setiap akhir kata atau akhir kalimat, karena ini soal rasa. Dan juga yang harus kau pahami adalah percuma saja jika ku jelaskan aku cinta mati padamu setiap saat namun kamu tak merasakan itu pada apapun yang ku lakukan padamu. Lalu apa gunanya?
Tentu ini bukan lagi perkara soal cinta, sayang dll.
Karena sejauh ini sudah banyak hal yang sudah kita korbankan, banyak hati yang sudah kita abaikan dan kita patahkan untuk sampai pada titik ini, dan tentunya banyak waktu yang sudah terlewati dengan percuma jika saja kamu dan aku tak meniatkan hubungan ini berlanjut ke arah yang lebih dekat. Setelah banyak ujian yang sudah berhasil kita lalui entah itu soal, waktu, jarak dan tentu saja rindu yang terkadang membuatku ingin menyerah.
Dan aku tak ingin menyebut semua itu adalah pengorbanan, karena mimilihmu adalah pilihanku.
Jika yang telah ku jelaskan tadi tak cukup membuatmu paham dan mengerti, maka kamu boleh membandingkanku dengan banyak perempuan lain yang lebih sabar  dan tabah. Bahkan ku izinkan kamu untuk memilih perempuan lain yang mungkin bisa memberikanmu rasa kasih dan sayang lebih besar dari yang kuberikan.

Dan sekali lagi ku jelaskan, ini bukan saja soal takdir. terlepas dari itu. Ini pilihanku!
Pilihanku untuk memilihmu
Pilihanku untuk melewati setiap ujian tuhan denganmu.
Pilihanku untuk membagi setiap kebahagiaan dan tawa hanya denganmu.
Dan jika boleh aku berharap, semoga kamupun merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan, memilihku dalam segala balutan doa di setiap akhir ibadahmu dan menyebut namaku disetiap kali perbincangan pribadimu dengan Tuhan.

Jika benar,
Sungguh tak ada lagi yang ingin ku gantikan denganmu.
Maka tetaplah bersamaku.

Jadi menurutku pertanyaan yang kau berikan sebenarnya hanya kamu yang bisa menjawab, bukan aku! Karena yang merasakan kegelisahan maupun kebahagiaan dari rasa yang ku bagikan adalah kamu.