Masihkah
kamu ingin bertanya soal rasa sayang dan cinta setelah sejauh ini?
Sebelum
kamu bertanya padaku? Izinkan aku bertanya hal serupa denganmu.
Sebesar
apa rasa sayang dan rasa cintamu padaku?
Sebesar
duniakah?
Jagad
raya?
Alam
semesta?
Atau
alam semesta beserta isinya?
Ah
rasanya terlalu berlebihan jika sebutanku tadi gambaran betapa rasa cintamu
besar padaku.
Atau
hanya aku yang berfikiran seperti itu? Dan kamu tidak?
Semoga
dugaanku salah, dan semoga kita berdua sama-sama sedang memperjuangkan hal baik
di jalan masing-masing agar keluarga dan tentunya Tuhan percaya bahwa ada
keseriusan yang sedang kita jalani di tempat yang berbeda ini.
Atau…
Ah
sudahlah…
Terlepas
dari bagaimana kamu dan perasaanm, aku tak ingin mempermasalahkan itu semua.
Mengenai
pertanyaanmu tadi, apakah kamu masih ingin mendengarkan bagaimana penjelasanku?
Baiklah,
dengarkan maka akan ku jelaskan semuanya dengan baik.
Tentang
bagaimana perasaanku padamu?
Tentunya
aku menyayangimu, kau adalah laki-laki baik yang ku yakini sedang di dekatkan
tuhan denganku, laki-laki yang tuhan kirimkan sebagai penawar rasa patah hatiku
pada cintaku yang salah, laki-laki yang kini kebagian rinduku setiap saat.
Berbicara
tentang cinta.
Aku tak ingin buru-buru menyebutnya dengan sebutan
cinta. Karena ku pikir, biarkan Tuhan memberikan petunjuk dan kamu sendirilah
yang menafsirkan sudah sejauh mana rasa yang ku berikan padamu, sudah sedalam
mana kamu jatuh dalam pelukanku, sudah sehebat apa aku dapat membuat duniamu berpaling
jika kamu merindukanku. Karena ini bukan lagi perkara ada kata “I LOVE YOU”
atau “Aku cinta kamu, jangan pernah tinggalkan aku” di setiap akhir kata atau
akhir kalimat, karena ini soal rasa. Dan juga yang harus kau pahami adalah percuma
saja jika ku jelaskan aku cinta mati padamu setiap saat namun kamu tak
merasakan itu pada apapun yang ku lakukan padamu. Lalu apa gunanya?
Tentu
ini bukan lagi perkara soal cinta, sayang dll.
Karena
sejauh ini sudah banyak hal yang sudah kita korbankan, banyak hati yang sudah kita
abaikan dan kita patahkan untuk sampai pada titik ini, dan tentunya banyak
waktu yang sudah terlewati dengan percuma jika saja kamu dan aku tak meniatkan
hubungan ini berlanjut ke arah yang lebih dekat. Setelah banyak ujian yang
sudah berhasil kita lalui entah itu soal, waktu, jarak dan tentu saja rindu
yang terkadang membuatku ingin menyerah.
Dan
aku tak ingin menyebut semua itu adalah pengorbanan, karena mimilihmu adalah
pilihanku.
Jika
yang telah ku jelaskan tadi tak cukup membuatmu paham dan mengerti, maka kamu
boleh membandingkanku dengan banyak perempuan lain yang lebih sabar dan tabah. Bahkan ku izinkan kamu untuk
memilih perempuan lain yang mungkin bisa memberikanmu rasa kasih dan sayang lebih
besar dari yang kuberikan.
Dan
sekali lagi ku jelaskan, ini bukan saja soal takdir. terlepas dari itu. Ini pilihanku!
Pilihanku
untuk memilihmu
Pilihanku
untuk melewati setiap ujian tuhan denganmu.
Pilihanku
untuk membagi setiap kebahagiaan dan tawa hanya denganmu.
Dan
jika boleh aku berharap, semoga kamupun merasakan hal yang sama dengan apa yang
aku rasakan, memilihku dalam segala balutan doa di setiap akhir ibadahmu dan
menyebut namaku disetiap kali perbincangan pribadimu dengan Tuhan.
Jika
benar,
Sungguh
tak ada lagi yang ingin ku gantikan denganmu.
Maka
tetaplah bersamaku.
Jadi menurutku pertanyaan yang kau berikan
sebenarnya hanya kamu yang bisa menjawab, bukan aku! Karena yang merasakan
kegelisahan maupun kebahagiaan dari rasa yang ku bagikan adalah kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar